|
24. Mei 2008 jam 13:55 |
|
Menyambut Pementasan Putri Cina
Berdasarkan Novel Karya Sindhunata
Dalam Rangka 100 Tahun Kebangkitan Nasional
Di Kapal Cheng Ho, Komplek Klenteng Tay Kak Sie, Semarang 24 Mei 2008
SASTRA adalah cermin dan wujud semi-wadag kebudayaan. Ia lahir dari
sastrawan yang gelisah atas kondisi masyarakat yang menjadi konteks
hidupnya. Ia merefleksikan kondisi itu dan menggambarkannya. Dan tidak
hanya menggambarkan, tapi juga memberi alternatif arah yang lebih
bermakna, walau sang sastrawan barangkali tidak berpretensi ingin
mengajar-ajari pembacanya. Karena itu, sastra yang memang bermutu tak
pelak merupakan potret sosial, yang sekaligus berisi perenungan dan
penyadaran yang memunculkan dalam diri pembacanya mutiara kebijaksanaan
untuk melampaui kondisinya yang mengungkung dan membatasi. Itulah yang
disodorkan kepada kita oleh Sindhunata, antara lain lewat novelnya,
Putri Cina.
|
|
Read more...
|
|
|
Paduan Budaya Tionghoa - Jawa |
|
25. Maret 2008 jam 19:05 |
|
Kedatangan budaya Tionghoa di Nusantara ini belum ada yang tahu secara pasti. Ketika Musafir I Tsing datang di Batutulis, Jawa Barat pada 414 M jauh sebelum Prabu Siliwangi meninggalkan prasasti, disebutkan bahwa pada singgahan kedua diketemukan sudah ada kemajuan budaya bila dibandingkan dengan kunjungan pertamanya.
Kedatangan orang Tionghoa di Nusantara karena ada usaha mencari sesuatu yang lebih baik dari negeri Tiongkok. Ketika Bhiksu Tong mencari Kitab Suci Tipitaka ke India, jauh sebelumnya sudah terbentang jalan raya darat lintas utara yang dsebut “jalan sutera utara” menghubungkan daratan Tiongkok ke belahan dunia bagian Barat melalui Turki. Pada kurun waktu selanjutnya jalan laut menuju Nan Yang (Kawasan Selatan) dengan menggunakan kapal-kapal niaga maupun armada Angkatan Laut terbentang karena Negeri Tiongkok dijajah bangsa Mongolia sesama berkulit kuning memunculkan kaum oposisi. Mereka inilah yang memilih exodus ke Selatan karena akan ditumpas oleh penguasa.
|
|
Read more...
|
|
|