Bedah Buku “Putri Cina” karya Dr Sindhunata
Jumat, 23 Mei 2008 – Jam 08:00 WIB
Study World – Jl. Kyai Saleh 12-14
Pembicara:
Prof Dr Abdul Djamil, M.A.
Prof Dr Budi Widianarko, M.Sc.
Prof Dr John A. Titaley, Th. D.
Lic. Widjajanti Dharmowijono
Moderator:
Triyanto Triwikromo
Pada hari Kamis, 8 Mei 2008 mendadak server Gangbaru.com tidak dapat diakses. Belakangan baru ketahuan kalau harddisk penyimpanan file Gangbaru.com mengalami kerusakan sehingga ada beberapa bagian data yang corrupt. Praktis sejak Kamis siang itu situs Gangbaru.com tidak dapat diakses dan baru kembali normal pada hari Senin, 12 Mei 2008 petang setelah dilakukan penggantian harddisk dengan yang baru dan instalasi seluruh sistem. Untuk sementara waktu, Forum Diskusi dan Galeri Gangbaru belum dapat dipulihkan. Demikian pula dengan alamat e-mail
, mungkin email yang anda kirimkan akan bounced back ke mailserver anda hingga layanan - layanan tersebut benar - benar berhasil kami pulihkan. Redaksi Gangbaru.com mohon maaf yang sebesar - besarnya atas ketidaknyamanan ini.
Update (13 Mei 2008) : e-mail sudah kembali berfungsi dengan normal.
Last Updated ( 13. Mei 2008 jam 19:15 )
Ketoprak Putri Cina
12. Mei 2008 jam 18:54
Hari Sabtu. tanggal 24 Mei 2008 nanti, memperingati 100 tahun Kebangkitan Nasional, Komunitas Pecinan Semarang untuk Pariwisata (KOPI SEMAWIS) bersama - sama dengan berbagai elemen masyarakat Semarang akan mengadakan pementasan Ketoprak Putri Cina, sebuah cerita yang diangkat dari novel berjudul "Putri Cina" karya Romo Sindhunata (diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama, Jakarta). Cerita yang penuh dengan filsafat dan mitos, baik Jawa maupun Cina. Sebuah tragedi yang ditelusuri lewat babad dan sejarah, lalu dijalin dalam sebuah karya sastra akan dipentaskan dalam genre ketoprak humor oleh Ketoprak Tjonthong dari Yogya. Sebuah lakon yang akan mengingatkan kita, bahwa hanya dengan persatuan dan kebersamaan sebagai sebuah bangsa yang akan membawa kita kearah kemakmuran.
Pentas akan digelar diatas panggung kapal Cheng Ho di pelataran Klenteng Tay Kak Sie, Gang Lombok - Semarang mulai pukul 18.30 WIB hingga selesai. Pentas ini terbuka untuk umum secara cuma - cuma. Tempat sangat terbatas, jadi pastikan anda datang lebih awal.
Sehari sebelumnya, tanggal 23 Mei 2008 akan diadakan acara Bedah Buku Putri Cina di Study World, jl Kyai Saleh 12-14 Semarang mulai pukul 09.00 - 13.00 WIB dengan menghadirkan nara sumber Prof. Budi Widjanarko (UNIKA Semarang), Prof Abdul Djamil (IAIN Semarang), Prof John Titaley (UKSW Salatiga), Widjajanti Dharmowijono (UNTAG AKABA 17 Semarang) dan Romo Sindhunata sendiri.
Malam harinya, para pengunjung Waroeng Semawis dapat menikmati penampilan kelompok musik Acapella Mataraman dari grup Cerewet Cangkemunium mulai pukul 19.00WIB hingga selesai. Kelompok musik asal Yogya ini terkenal unik dalam membawakan puisi - puisi dalam bentuk lagu tanpa iringan alat musik. Kelompok ini juga akan ambil bagian dalam pementasan Ketoprak Putri Cina keesokan harinya.
Last Updated ( 12. Mei 2008 jam 18:54 )
Paduan Budaya Tionghoa - Jawa
25. Maret 2008 jam 19:05
Kedatangan budaya Tionghoa di Nusantara ini belum ada yang tahu secara pasti. Ketika Musafir I Tsing datang di Batutulis, Jawa Barat pada 414 M jauh sebelum Prabu Siliwangi meninggalkan prasasti, disebutkan bahwa pada singgahan kedua diketemukan sudah ada kemajuan budaya bila dibandingkan dengan kunjungan pertamanya.
Kedatangan orang Tionghoa di Nusantara karena ada usaha mencari sesuatu yang lebih baik dari negeri Tiongkok. Ketika Bhiksu Tong mencari Kitab Suci Tipitaka ke India, jauh sebelumnya sudah terbentang jalan raya darat lintas utara yang dsebut “jalan sutera utara” menghubungkan daratan Tiongkok ke belahan dunia bagian Barat melalui Turki. Pada kurun waktu selanjutnya jalan laut menuju Nan Yang (Kawasan Selatan) dengan menggunakan kapal-kapal niaga maupun armada Angkatan Laut terbentang karena Negeri Tiongkok dijajah bangsa Mongolia sesama berkulit kuning memunculkan kaum oposisi. Mereka inilah yang memilih exodus ke Selatan karena akan ditumpas oleh penguasa.
Hujan lebat yang mengguyur kota Semarang sejak pukul 13.30 WIB kembali menenggelamkan kota lumpia ini. Kawasan Simpang Lima yang merupakan pusat kota tak pelak terendam air hingga sebetis orang dewasa. Diwilayah lain yang lebih rendah seperti Aloon - aloon kota lama, ketinggian air bahkan hingga diatas lutut orang dewasa. Entah sampai kapan kota ini bisa benar - benar terbebas dari ancaman banjir. Atau memang disengaja agar bisa disebut metropolis seperti Jakarta ?